Bahasa Indonesia
Secret Wisdom's Favor
Selama 6 detik setelah Charged Attack mengenai musuh, Elemental Mastery Karakter meningkat 40 poin. Efek ini dapat ditumpuk hingga 2 lapis dan dapat terpicu sekali setiap 0,5 detik.
Karakter Pengguna — Bow
Kisah
Awalnya, item ini dibuat dengan maksud untuk dijadikan sebagai sebuah sampel produk pre-order spesial untuk bab akhir "Sang Raja Invokation" Bag. I. Namun, karena spesifikasinya yang unik, permintaan untuk membuat sampel tersebut malah disalahartikan sebagai permintaan untuk membuat senjata sungguhan. Karena itu, para editor di Yae Publishing House merasa frustrasi dengan apa yang terjadi setelah menerima panah ini. Fukumoto, yang hadir saat panah sampai, sangat terinspirasi oleh peristiwa ini dan menulis kutipan berikut, yang nantinya akan dimasukkan ke dalam buku sebagai lampiran. "Siapa pun yang menggunakan busur ini akan menjadi pemanah paling terampil di bawah Raja Great Red Sand." Seperti yang dikatakan semua orang, dan dengan keyakinan kuat dari pemuda berkulit hijau itu. Saat Raja Ibis memamerkan harta karunnya, busur besar yang dihiasi permata dan diwarnai seperti pasir ini langsung menarik perhatiannya. Pada saat itu, anak laki-laki yang belum terombang-ambing oleh takdir, masih percaya bahwa semua yang dia inginkan adalah hadiah yang dapat dicapai dengan usahanya sendiri .... Baginya, itu hanya masalah seberapa banyak usaha yang diperlukan untuk mencapai itu. Maka dia dengan percaya diri bertanya kepada Raja Ibis, "Jika aku menjadi pemanah paling cemerlang dari semuanya, jika aku memiliki kekuatan yang melampaui raja-raja lain, apakah busur ini akan menjadi milikku?" Keheningan meliputi ruang pengadilan. Dalam bayang-bayang yang diterangi lampu, tidak ada orang yang berani menjawab. Kecuali, pria yang duduk di singgasana. Dengan matanya yang setajam mata elang, dia menyeringai dan mengabulkan keinginan pemuda itu. "Hari itu pasti akan datang," pikir pemuda berkulit hijau itu. Namun, bertahun-tahun telah berlalu sejak peristiwa itu. Beberapa ratus tahun berlalu, dan penguasa perang memenuhi keinginannya. Dengan bantuan seorang pemuda yang membuka Casket of Tomes, dia memasuki "Aula Duel" yang tersegel dan melihat busur besar yang dipegang oleh bayang-bayang itu. Waktu seolah berhenti, sehingga sisa jiwanya bisa melewati pintu yang rusak, koridor yang tersebar, dan kembali ke ruang penuh pengkhianatan dan intrik. Dengan mencengkeram panah emas yang ditembakkan dari busur ritual rahasia yang terbang ke arahnya, dia menghindari nasib malang yang ditusuk di dada. Semua ini sudah direncanakan dari awal olehnya. Tetapi tepat di saat itu, ritual rahasia menghilang. Anak panah itu hancur dan bayang-bayang orang yang memegang busur menghilang dalam sekejap. Dia meraih busur panjang itu sebelum terjatuh ke tanah. Berbagai usahanya untuk memiliki busur yang ditempa dengan emas ini berakhir dengan kegagalan, yang menyebabkan munculnya celah antara dia dan Raja Ibis. Sayangnya, ketika dia akhirnya menemukan harta yang diinginkan, dia menyadari bahwa hatinya dingin seperti di rawa yang tergenang, dan tidak ada setetes pun kegembiraan di dalamnya. Raja Buaya memikirkan hal ini dan membuat kesimpulan bahwa dia tidak lagi berusaha keras seperti di masa mudanya untuk mewujudkan mimpi yang tidak terpenuhi. Selain itu, Penguasa Pasir Merah yang dihormati telah disembunyikan dalam kisah, dan Nona Bunga tidak pernah terlihat lagi. Saat memperebutkan tahta mausoleum, terjadi beberapa perselisihan dan kekacauan antar kerajaan. Di masa-masa sulit ini, dia memutuskan untuk menyeberangi lautan pasir atas nama "Ritual Duel". Semua ini bertuuan untuk memicu perang yang akan menghapus penghalang antar dunia. Untuk menghentikannya, sosok tua yang sendirian, memegang busur emas, menaiki tangga menuju ritual .... Semua itu hanya kenangan dari masa lalu. Dia mengusap permata di ujung busur, hingga dia sadar bahwa bukan debu yang meredam kecemerlangannya. Belum lagi debu ini hanyalah imajinasi dalam kepalanya. "Lupakan saja," pikir penguasa perang itu. Dia mendengar suara meja diaktifkan lagi di "Aula Duel", menebak bahwa pemuda yang jiwanya pernah diandalkan, sedang menunggu duel dengan penuh semangat. Oleh karena itu, dia mengikat busurnya di samping, menggambar gambar kemenangan yang pernah dia impikan di kepalanya. Raja berkulit hijau berjalan perlahan menuju medan perang yang ditakdirkan.