Stat Level
| ATK | 510 |
|---|---|
| ATK | 41,3% |
Bahasa Indonesia
Radiance on the Water
Setelah melancarkan Elemental Skill, Elemental Mastery +52 poin selama 12 detik. Efek ini dapat ditumpuk sampai 2 lapis, durasi setiap lapis dihitung terpisah.
Karakter Pengguna — Sword
Kisah
Pada saat itu, sang pemuda belum dihormati sebagai pendiri Ramalan Qimen, dan nama "Pembaca Angin" pun belum dikenal siapa pun. Dia tidak lebih dari seorang pengembara liar yang berkeliaran di jalanan, membuat jimat dari udara dan menuangkan anggur untuk membuat formasi, dan mendapatkan reputasi sebagai sosok yang berani tanpa batas dalam pesta pora. Dia merasa bangga karena telah mampu melihat menembus ketidakpedulian dunia yang dingin, dan menganggap semua kebenaran tentang penciptaan hanyalah hal-hal sepele yang dipermainkan di ujung jarinya. Dengan bakat luar biasa yang dimilikinya, dia seharusnya bisa menjelajahi dunia fana sambil mengamati semua suka dan duka dari kejauhan. Pengusir roh jahat muda yang mengembara ke segala penjuru itu pun melakukan apa saja yang dikehendaki hatinya, tidak peduli terhadap baik atau buruk. Dia terkadang mencuri cermin perunggu milik Dua Sage Lianshan, terkadang menghukum para bandit yang merajalela di pegunungan. Begitulah, hingga suatu malam, raungan iblis memporak-porandakan ketenangan desa. Seorang pemuda yang kebetulan melintas di sana memanggil angin dan hujan, guntur dan kilat dengan gerakan pergelangan tangannya yang santai, membakar roh-roh jahat hingga menjadi abu. Dia membunuh setiap iblis yang ditemui, namun dengan sifat sembrono bawaannya, dia malah mengejek para penduduk desa yang baru saja diselamatkannya. Namun ketika guntur belum mereda, hujan cahaya perak tiba-tiba turun. Awan-awan surgawi, seperti pita sutra, saling menjalin membentuk bulu-bulu giok yang tak terhitung jumlahnya. Seorang perempuan bermata indah sejernih burung yang melayang turun, seketika memutus sikapnya yang lancang. Adeptus Yan, yang kelak dijuluki salah satu dari Tiga Monster Tao Dou, menghela napas menyesali pemuda yang menyia-nyiakan bakatnya itu. Meskipun diberkahi dengan kemampuan untuk memprediksi berbagai fenomena alam semesta, namun dia membiarkannya menjadi sekadar mainan untuk kesenangan duniawi. Pemuda yang angkuh itu belum pernah mengalami penghinaan seperti itu. Dia menghunus pedangnya dan mengarahkannya langsung ke sosok abadi yang tinggi dan perkasa itu .... "Anakku, kau pikir aku takut padamu? Dengarlah baik-baik, aku:" "Sejak kecil lahir dengan jiwa bebas tak terkekang. Aku mengembara di dunia melewati sepuluh musim dingin, tanpa ayah, tanpa ibu, juga tanpa beban di hati. Aku punya anggur, punya bunga, dan punya kilauan pedang." "Di tengah malam, api jimat membakar bintang-bintang, dan angin musim semi berhembus sejauh seratus mil untuk memasuki kantung sutra. Jangan katakan bahwa ilmu Qimen bukanlah jalan agung, karena aku mengkultivasi hukum agung yang mengatur alam semesta." "Ramuan keabadian dimurnikan di antara bunga-bunga, dan api sejati seringkali tersembunyi dalam mimpi; dalam keadaan mabuk, aku menulis puisi untuk mengusir dewa petir, sambil tertawa, aku menuangkan anggur giok untuk menggoda para peri." "Sekalipun aku melepaskan sebagian kecil saja dari kekuatanku, Empat Orang Suci Agung akan sangat terburu-buru. Dengan bisikan kegelapan dan beberapa mantra kertas yang digambar di air, para dewa di alam tertinggi akan merasakan jiwa mereka hancur berkeping-keping!" "Dia menjadikan para wanita cantik sebagai tungku pembakaran dan berani mengubah paviliun merah menjadi kuil. Di tengah musim semi yang panjang, dia merasa hari-hari terlalu singkat, dan suara seruling giok memikat angin." "Jika kau berani menghalangiku, tak peduli meskipun kau nenek tua beruban, aku akan merebut tiga jiwa dan tujuh rohmu dan meleburkanmu menjadi emas di tungku yang sama!" "Sudah selesai bicara?" Bisikan lembutnya bagai cahaya bulan perak yang menebar, namun diikuti oleh wibawa sakti yang mampu meruntuhkan awan dan membelah batu. Jimat dan pedang saling berbenturan. Sang pengusir roh jahat muda yang mengagungkan bakatnya sendiri, akhirnya takluk oleh cahaya gemilang giok. Bagai anak binatang yang terperosok ke dalam lubang dalam dan diinjak di bawah kaki, namun entah mengapa di dalam matanya menyala api yang belum pernah ada sebelumnya. Namun sang Adeptus bersayap perak seputih giok itu tidak murka seperti yang dibayangkan sang pemuda, malah membantunya berdiri .... "Jika niatmu sejati untuk berbuat kebaikan, mengapa kau rela tenggelam dalam kehidupan yang penuh kesulitan?" "Ikutlah mengembara bersamaku. Keindahan dunia ini tidak hanya sebatas duniamu yang terbatas." "Hei, tua bangka! Untuk apa bersikap seperti itu! Aku seorang pemuda terkemuka, mahir dalam mengendalikan kilat dan guntur, menguasai segala ilmu, bahkan menelan bintang dan memakan rembulan pun bukan hal mustahil bagiku. Lalu mengapa aku harus menjadi pelayanmu?" Meski dia sudah bersumpah serapah seperti itu, pemuda sombong itu tetap tidak pergi. Bukan karena memanggil lawan bicaranya "tua bangka" hingga dipukuli lagi, melainkan karena dia melihat rasa belas kasih yang sudah lama tak dia jumpai, terpancar dari sepasang mata dingin itu. Seperti perlindungan seorang ibu yang penuh kasih seperti yang tertulis dalam buku, dan juga seperti .... .... "Seperti apa lagi?" Itu sudah terjadi bertahun-tahun kemudian. Dia bertanya kepadanya dengan penuh rasa ingin tahu sambil bermandikan cahaya berkelap-kelip dari lampu perak. Sesuai wataknya yang biasa, pendiri Qimen yang liar dan angkuh itu seharusnya menjawab dengan kalimat manis penuh gurauan, namun dia terkejut mendapati tenggorokannya tiba-tiba tersumbat, meskipun dia menguasai ribuan kata, tak satu pun candaan yang mampu tersusun. Saat tersadar, lampu telah padam, hanya ditemani cawan anggur dingin yang tersaji sia-sia di meja dan sisa-sisa jiwanya. Lagi-lagi mimpi seperti ini, pikirnya. Sudah setahun berlalu, bulan purnama kembali, namun dia masih belum juga kembali. Kalau begitu, biarkan aku menunggu dalam mimpi ini, terus menunggu seperti ini, sampai suatu hari nanti, suatu hari nanti ....