Beyond the Chrysalis

Beyond the Chrysalis

★★★★★SwordCRIT DMG

Stat Level

Level
ATK674
CRIT DMG44,1%
Beyond the Chrysalis — Pedang panjang berkilauan dengan cahaya berwarna-warni. Pernah ada yang menggunakannya untuk membebaskan diri dari belenggu, dengan ayunan pedang yang ringan bagaikan kupu-kupu menari.
Bahasa Indonesia

Dance of Wings Unbound

Setiap kali Karakter yang mengenakan melancarkan Elemental Skill atau Elemental Burst, akan memperoleh salah satu dari tiga efek berikut secara berurutan: Winds of Devotion: CRIT DMG Karakter yang mengenakan +56% selama 10 detik; Winds of Defiance: DMG reaksi Stellar Swirl yang diakibatkan Karakter yang mengenakan +36% selama 10 detik; Winds of Plenty: Memulihkan 5 Energy Karakter yang mengenakan, maksimum 5 Energy per 4 detik yang dapat dipulihkan dengan cara ini. Saat Karakter yang mengenakan keluar dari medan pertempuran, efek di atas akan dihapus dan urutan akan diulang.

Karakter Pengguna — Sword

Kisah

Pada masa ketika dia belum kehilangan nama marganya, dunia mengenalnya dengan sebutan "putri sulung Strivozha". Grand Duke Photius tiba-tiba meninggal karena stroke, sehingga sang penasihat setia yang selama ini mendampinginya pun terpaksa mewarisi gelarnya, dan menguburkan ambisi pemberontakannya yang hendak dia pimpin bersama Druzhna, bersama madu yang telah dia teguk masuk ke dalam liang kubur. Angin di tanah beku selalu mudah berubah, namun klan Vila sang bangsawan tetap berdiri kokoh di puncak kekuasaan. Bertentangan dengan keinginan leluhur, Kediaman Veneter kembali jatuh ke tangan pewaris Strivozha, Kisah warisan yang melekat pada nama keluarga itu pun kembali mendapat tambahan catatan kesetiaan, sebagaimana halnya di istana Bintang Pucat. "Tuan Putri yang mulia, apakah Anda sungguh sepolos itu, mengira bahwa Tsaritsa yang baru naik takhta itu akan mempercayai klan Anda?" "Kejayaan Istana Bintang Pucat baginya hanyalah pedang yang tergantung di atas kepalanya, dan pada akhirnya dia akan tenggelam dalam sanjungan para manusia." "Ibumu ... Seorang yang Murni itu begitu setia kepada Kaisar Monomakh. Bagaimana mungkin Anda melupakan sumpah tersebut?" "Marilah, Yang Mulia Gluvasha Strivozha, kita bersatu dan hancurkan sang pengkhianat perampas tahta itu!" Para pemberontak mengetahui kesetiaan sang ibu yang teguh kepada Kaisar, lalu merayunya untuk memimpin pemberontakan melawan penguasa baru di dataran salju, Putri sulung Strivozha langsung menyetujui, sepasang mata berbentuk vertikal berwarna hijau zamrudnya berkedip dengan kemuliaan dan belas kasih yang tak berbeda dari sang ibu. "Jika memang seperti yang Anda katakan, kawanku, demi masa depan klan kami, kaisar palsu yang hina itu layak untuk digulingkan, dan aku bersedia bersumpah atas kehormatan Strivozha yang Suci, bahwa Vila akan berdiri teguh di sisimu." Seperti yang diharapkan para pemberontak, dalam beberapa bulan berikutnya, Tuan Putri Vila selalu secara terbuka mengecam kekejaman Tsaritsa. Awalnya dengan mengusir duta khusus dari Zapolyarny Palace keluar dari wilayahnya, dan kemudian mereka langsung merekrut pengikut tanpa izin kekaisaran. Tidak mengherankan, putri sulung Strivozha selalu setia dan dapat diandalkan, sama seperti ibunya yang dijuluki "Seorang yang Murni". Pemberontak peri dari berbagai klan saling bermusuhan dan curiga satu sama lain, namun mereka selalu bersedia menyerahkan informasi rahasia kepada Vila untuk dikoordinasikan. Baru setelah mereka semua ditangkap habis-habisan, para pemberontak menyadari bahwa sekutu yang selama ini mereka andalkan ternyata sudah lama berdiri di sisi Tsaritsa. Para pemberontak yang marah karena tuduhannya mengkhianati keyakinan dan keadilan, dengan panik mengutuknya karena menghina nama baik sang ibu. Tetapi Tuan Putri Vila hanya tertawa meremehkan: "Ah, bukankah kalian semua memuji kesetiaan Strivozha, dan dari sanalah timbul keinginan untuk bersekutu dengan kami?" "Seperti yang kukatakan, jika Yang Mulia Anastasya memang seharusnya digulingkan, para Vila pasti akan bertempur bahu-membahu bersama-sama." "Hanya saja ... jika pernah mendengar kabar angin, maka kalian seharusnya tahu, hanya Anastasya yang merupakan pemimpin kami." "Kalian bukan tuanku, dan aku bukan bawahan kalian. Mengapa harus menuduhku mengkhianati pemberontakan kalian?" Begitulah, di atas tanah beku yang diterangi cahaya penuh kasih, semua pemberontakan berhasil diberantas sepenuhnya. Strivozha tidak pernah menjadi musuh siapa pun. Seperti yang tercatat dalam buku sejarah, dia selalu menjunjung kehormatan dan kesetiaan. Kisah yang tertulis dengan tinta halus telah usai dengan sempurna, namun permohonan Tuan Putri Vila setelah itu hampir tidak diketahui oleh siapa pun: "Yang Mulia. Nama keluarga Yang Mulia hanyalah belenggu, dan anugerah paling berharga bagiku adalah kebebasan." "Vila telah mendapatkan karunia tertinggi dari Yang Mulia, namun hamba memohon kepada Yang Mulia, mulai saat ini izinkanlah hamba terbebas dari segala belenggu." "Meskipun bertujuan untuk mengelabui pasukan pemberontak, tindakanku merekrut pasukan tanpa izin tetap merupakan pengkhianatan besar yang tidak dapat diampuni." "Hamba mohon Yang Mulia mengambil kembali tanah kekuasaan hamba, mencabut nama marga dan gelar hamba, lalu memilih Tuan Putri baru." Lalu, titah yang agung pun turun dari kuil suci, penuh kasih bagai helaan napas iba yang samar .... "Gluvasha. Mulai sekarang, orang-orang tidak akan lagi mengingatmu dengan nama keluargamu." "Kelak, tiada lagi gelar kebangsawananmu yang tertulis dalam catatan sejarah. Semoga pada nisanmu, terukir kesetiaan yang benar-benar kamu junjung."

Kontribusi