Tenacity of the Millelith
Artefak

Tenacity of the Millelith

Kelangkaan 5

Bonus Set

2

2 Bagian

HP +20%.

4

4 Bagian

Saat Elemental Skill mengenai musuh, meningkatkan 20% ATK dan 30% kekuatan Perisai seluruh anggota party di sekitar selama 3 detik. Efek ini hanya dapat terpicu setiap 0,5 detik. Efek tetap dapat terpicu meskipun Karakter yang mengenakan set Artefak ini tidak berada di medan pertempuran.

Bahasa Indonesia

Domain

Bagian

Flower of Accolades

Flower of Accolades

Flower of Life

Bunga yang terbuat dari daun emas. Bunga ini melambangkan kemuliaan dan kehormatan yang diraih oleh pemakainya.

Kisah

Di masa lalu, saat lagu-lagu dikumandangkan dari puncak tebang, sebuah meteorit jatuh ke dalam Chasm. Dari atas langit yang tak berujung itu, tiba-tiba jatuh sebuah meteorit besi yang menghantam tanah, dan seketika mengubah bumi menjadi pasir kristal glasir. Meskipun hidup manusia berakhir dalam sekejap mata, Rex Lapis sendiri yang memberikan perintah agar para Millelith pergi melindungi tambang-tambang. Saat para Abyss datang membanjiri, pasukan Millelith berhasil mengawal ribuan penduduk ke tempat yang aman. Para penambang bercerita tentang sebagian prajurit di garis belakang yang tetap tinggal di dalam Chasm, Mereka bertempur dengan gagah berani bersama dengan sang Yaksha tanpa nama, hingga akhirnya mereka mengorbankan nyawanya di antara bebatuan tajam. Seiring waktu, nama para manusia dan Adeptus semakin terlupakan. Seiring waktu, bahkan gunung dan sungai pun dapat berubah bentuk. Tetapi waktu tidak akan pernah bisa menghapus jasa-jasa mereka yang sangat terhormat. Seperti bunga berdaun emas ini, mereka akan selalu bersinar selamanya. Lima ratus tahun kemudian, kota pelabuhan ini tetap tenang dan damai, sama seperti di hari malapetaka itu berhasil diredakan. Hingga kini, para prajurit tetap mengenakan bunga emas ini dengan rasa bangga, untuk menghormati pengorbanan para leluhur mereka.

Ceremonial War-Plume

Ceremonial War-Plume

Plume of Death

Bulu elang yang dikenakan pada pertemuan-pertemuan upacara. Bulu ini menunjukkan martabat dan tekad Pelabuhan Liyue kepada dunia.

Kisah

Sebagai simbol pelayanan militer, pasukan Millelith menggunakan bulu burung pemangsa untuk menghiasi seragam mereka. Bulu ekor ini hanya boleh dipakai saat upacara tertentu saja. Bulu-bulu ini sangat efektif dalam meningkatkan semangat para penduduk, dan membuat para pendatang berdecak kagum. Legenda mengatakan bahwa pada awalnya, tradisi bulu-bulu yang dikenakan pasukan Millelith berasal dari sang Yaksha tanpa nama. Dalam pertarungan sengit antara sang Yaksha dengan Abyss, bulu-bulu yang berjatuhan ke tanah dianggap sebagai simbol harapan. Pada akhirnya, sang Yaksha dan manusia pemberani tenggelam dalam tidur panjang di sarang musuh yang gelap. Hati Rex Lapis sangat tersentuh oleh pengorbanan mereka, dan ia pun berduka tanpa sepatah kata pun, di antara suara gumaman batu-batu pegunungan. Orang-orang memercayai bahwa Yaksha tanpa nama yang mempertahankan The Chasm, sebenarnya tidak bertindak di bawah perintah Rex Lapis. Melainkan, tindakan sang Yaksha bertujuan untuk menebus dosa lama... biaya yang harus dibayarkan untuk kepengecutan dan pelarian diri. Bagaimanapun kebenarannya, sang Yaksha yang tadinya terbang di ketinggian surgawi, kini telah kembali untuk hidup bebas di antara awan-awan. Tetapi para prajurit lain, terlelap dalam tidur abadi di dalam The Chasm... legenda mereka akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Orichalceous Time-Dial

Orichalceous Time-Dial

Sands of Eon

Alat sederhana yang berfungsi sebagai penunjuk waktu. Benda ini pernah menjadi perlengkapan wajib bagi Millelith selama masa perang.

Kisah

Pengukur waktu yang kokoh dan menggunakan tenaga sinar matahari atau bulan, benda ini dapat menangkap cahaya bahkan di malam tergelap sekalipun. Saat Liyue terancam oleh kejahatan yang hitam pekat, jam ini mengingatkan para prajurit tentang kehangatan cahaya matahari. Saat bertarung bersama sang Yaksha, para prajurit manusia ini tidak bisa menghindar dari karma yang merasuk, atau terluka dalam sebuah pertumpahan darah. Untuk mencegah diri mereka dikonsumsi oleh kegelapan dari pembantaian ini, para prajurit Millelith menggunakan jam ini untuk menandakan jalannya waktu selama pertempuran. Mereka menetapkan kecepatan dan jadwal berbaris, sehingga sekelompok tentara manusia akan bergabung ke pertempuran sebelum kelompok sebelumnya mundur. Siklus pergantian maju dan mundur ini terus berlanjut hingga ke kedalaman Chasm, di mana Yaksha dan prajurit pemberani akhirnya gugur. 100 tahun kemudian, alat pengukur waktu ini digali oleh seorang penambang. Permukaan perunggunya berkilau di bawah cahaya bintang-bintang. Ada sebuah legenda yang menceritakan tentang seorang kolektor barang antik yang mengenakan jubah hitam. Dia menjelajahi semua toko di jalan dan membeli semua Orichalceous Time-Dial yang dia temukan dengan harga tinggi. Beberapa penjual penasaran dan ingin tahu alasan kolektor ini membeli jamnya, tapi dia selalu menghindar dari pertanyaan dengan berbagai jenis alasan. Jadi apa tujuan orang ini sebenarnya? Mungkin hanya sang waktu yang terus berjalan tanpa henti yang bisa memberikan jawaban.

Noble's Pledging Vessel

Noble's Pledging Vessel

Goblet of Eonothem

Sebuah cangkir emas yang digunakan oleh Milelith untuk mengucap sumpah. Masih menyisakan harum aroma anggur dari dalamnya.

Kisah

Ketika Millelith pertama kali tiba di Liyue, tempat itu masih sangat liar dan berbahaya. Para petua di kota, desa, dan suku pernah bersumpah setia dengan cangkir emas. Sebagai bukti kesetiaan kepada Rex Lapis dan kewajiban terhadap masyarakat, mereka memilih prajurit yang gagah berani dari berbagai wilayah dan kemudian dikenal sebagai Millelith. Para prajurit di barisan belakang yang bertempur bersama Yaksha pernah meminum anggur dari cangkir emas itu. Mereka bersulang kepada Rex Lapis yang agung dan terhormat untuk terakhir kalinya dan menyerbu ke dalam Abyss tanpa keraguan sedikit pun. Ratusan tahun kemudian, seorang petualang mengambil cangkir itu dari kedalaman The Chasm. Ajaibnya, cangkir itu tetap utuh dan tidak ternoda sedikit pun walau sudah lama berada dalam dunia bawah tanah yang gelap gulita. Ratusan tahun pun berlalu. Ketika penduduk Liyue menceritakan kembali dongeng tentang era bencana dan Yaksha tanpa nama itu, bercerita bagaimana pahlawan dari latar belakang dan tanah kelahiran yang berbeda bersatu melawan Abyss... cerita mereka pasti tidak akan terlepas dari cangkir itu, dan bagaimana darah para prajurit yang tumpah di hari itu tetap bersih dan tak bernoda hingga sekarang.

General's Ancient Helm

General's Ancient Helm

Circlet of Logos

Helm megah yang berasal dari masa lampau. Bersihkan saja debu yang menempel padanya dan benda ini akan terlihat seperti baru lagi.

Kisah

Sang komandan yang bertarung bersama Yaksha tanpa nama pun telah gugur di medan peperangan. Bersama dengan beberapa rekan-rekan terdekat yang bertempur bersamanya. Untuk memastikan para pengungsi bencana dapat melarikan diri dengan aman, dan untuk menjaga kehormatan mereka di mata Lord Geo, Para prajurit di garis depan mengenakan helm tempur mereka, menghunuskan ujung tombak mereka ke arah Abyss, dan menerjang tanpa gentar. Malapetaka datang ke tanah glasir ini, dan segerombol musuh-musuh kuno pun bermunculan. Atas perintah dari Rex Lapis, para Yaksha bertarung dengan monster ciptaan Abyss dalam pertumpahan darah yang sengit. Pertarungan ini berlangsung hingga titik darah penghabisan dan hingga semua noda telah dimurnikan. Seiring dengan surutnya kekuasaan Abyss, pasir glasir pun akhirnya dapat kembali bersinar sekali lagi. Tapi saat kegelapan yang menutupi langit The Chasm telah sirna, demikian juga dengan para Yaksha, hilang tanpa jejak. Sedangkan jenderal beserta prajurit-prajurit yang telah meninggalkan helm perang mereka di medan peperangan, semoga mereka dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.

Kontribusi
Tenacity of the Millelith — Artefak | Database Genshin Impact